Tampilkan postingan dengan label Kejadian Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejadian Alam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011




Awas! 6 "Peluru" Pembunuh di Jalanan Saat Mudik

Minggu, 5 September 2010 | 12:00 WIB
AUTOBILD/FITRA ERI
Sampai mengalami seperti ini saat mudik, perjalanan silaturahmi pun terbuang percuma

Jalur mudik dari Jakarta menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mulai ramai pada Senin (6/9/2010) besok (H-4). Dalam melakukan perjalanan jauh, entah siang atau malam, tak cuma kondisi mobil dan fisik pengemudi yang harus prima. Setidaknya ada enam "peluru" yang bisa menyebabkan nyama pengemudi dan keluarga bisa melayang.

Unsur-unsur tersebut disusun berdasarkan persentase kecelakaan (dari tertinggi sampai terendah) karena peluru tadi, baik tunggal maupun gabungan. Jadi, waspadalah terhadap enam hal di bawah ini.
 
1. Gangguan (distraction) Inilah pembunuh nomor satu dari setengah kecelakaan fatal lantaran konsentrasi pengemudi tidak 100 persen ke jalan raya dan gangguan bisa dari luar ataupun dalam mobil. Gangguan terdata dari Amerika dikarenakan menelepon atau SMS, mengalihkan mata, mengatur audio, mengurus anak atau membaca sesuatu.
Gangguan lain, faktor psikologis seperti masalah pribadi, trauma yang baru saja terjadi, panik, dan lainnya. Cara mengatasinya, curahkan 100 persen perhatian, pandangan, dan konsentrasi pada aktivitas mengemudi. Ingat saja moto ini: "Good drive, Just drive."

2. Lelah dan mengantuk Kedua faktor ini memiliki efek mirip dengan mabuk, tetapi dinilai lebih berbahaya karena keduanya bisa datang tanpa diduga. Ciri-ciri kelelahan antara lain mata berat dan sering menutup lama, penglihatan sulit fokus, sering menguap, gelisah, mobil berpindah jalur tanpa dikehendaki, atau sulit berkonsentrasi penuh ke jalan. Paling aman, bawalah pengemudi pengganti yang layak.
 
3. Alkohol dan obat-obatan Menenggak alkohol atau mengonsumsi obat-obatan secara berlebihan, sama saja dengan menghilangkan sebagian besar kemampuan otak dan mengalami kemunduran drastis, terutama dalam hal reaksi, perhitungan manuver, kepekaan pada kecepatan, dan kehalusan sensor motorik.
Selain alkohol, Anda mesti mewaspadai obat yang menimbulkan rasa kantuk seperti obat flu atau batuk, tidak boleh setetes pun dikonsumsi selama mengemudi.
 
4. Kecepatan Faktor ini punya kontribusi besar terhadap gaya impak yang diterima mobil dan penumpangnya, tergantung tingginya kecepatan. Menurut penelitian NHTSA yang kerap melakukan crash test, bila menaikkan kecepatan dari 80 ke 120 km/jam, energi yang menimpa tubuh kita bertambah lebih dari 2 kali. Selain itu, kecepatan tinggi akan mengurangi waktu untuk menghindari kecelakaan atau pengereman. Disarankan, jangan melewati batas kecepatan maksimum dan menyetarakan kecepatan kita dengan kendaraan lain untuk meminimalisasi risiko kecelakaan fatal.
5. Mengemudi agresif Menurut NHTSA, pengemudi agresif yaitu mereka yang mengemudi dengan egois, melewati batas kemampuan pribadi maupun mobil, tak memedulikan peraturan dan keselamatan, serta ceroboh. Sedangkan aksi-aksi agresif sering menimbulkan kecelakaan, antara lain membuntuti mobil terlalu dekat, menyerobot lampu lalu lintas, berpindah jalur terlalu sering, memepet pengemudi lain, dan mengerem mendadak.
Cara mengatasi, berpikir positif, rendah hati, sabar, dan berangkat tepat waktu.
 
6. Cuaca Ada dua hal penyebab terjadinya kecelakaan, yakni daya pandang lebih terbatas dan daya cengkeram ban ke jalan memburuk. Untuk di Indonesia, cuaca yang mesti diwaspadai hujan deras. Kebiasaan memasang lampu hazard membuat risiko kecelakaan semakin tinggi, terutama buat kendaraan di belakangnya karena, selain mata lelah, kepekaan terhadap lampu rem berkurang. Bila jarak normal 2 detik dengan mobil di depan, kala hujan jauhi lagi menjadi 3 detik.


Berhati - hati lah....Saat Berkendara

Ilustrasi 
 
Situs astronomi Space.COM beberapa waktu lalu memberitakan bahwa bulan sedang bergerak pada posisi terdekat dengan bumi. Posisi terdekat akan dicapai pada tanggal 19 Maret 2011 nanti, membawa bulan hanya pada jarak 221.567 mil, terdekat selama 18 tahun terakhir. Ketika Bulan sedang ada pada posisi terdekatnya, maka fenomena ini sering disebut "supermoon".

Para ahli mengatakan, akibat dari "supermoon" adalah meningkatnya gelombang pasang air laut beserta meningkatnya aktivitas seismik di Bumi yang bisa berakibat pada meningkatnya potensi gempa bumi dan erupsi gunung berapi. Pada saat yang hampir bersamaan atau 8 hari sebelum puncak kedekatan Bumi dengan Bulan (perigee), Jepang diguncang oleh gempa berkekuatan 8,9 skala magnitude dan menyebabkan tsunami yang hingga kini menewaskan 1000 korban jiwa.

Sebagaimana diketahui, gempa diakibatkan oleh aktivitas tektonik Bumi. Berangkat dari kebetulan tersebut, beberapa pihak berspekulasi bahwa gempa di Jepang disebabkan oleh Bulan yang hendak menuju titik terdekatnya dengan Bumi.

Blogger Mark Paquette misalnya, memulai spekulasinya dengan mengatakan bahwa beberapa peristiwa gempa dahsyat memang terkait dengan kedekatan Bumi-Bulan. Ia mencontohkan gempa yang mengakibatkan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Gempa tersebut terjadi 14 hari sebelum perigee Bumi-Bulan yang terjadi pada 10 Januari 2005.
Ia menuliskan, "Jadi, apa yang bisa kita lihat sekarang? Gempa bumi? Erupsi gunung berapi? Sepertinya kita cuma bisa menunggu dan melihat nanti." Komentar tersebut memang menakutkan. Bagaimana tidak, belum terjadi perigee saja bisa berakibat pada gempa terdahsyat sepanjang sejarah Jepang sejak 1891.
Menanggapi spekulasi itu, meteorolog senior di AccuWeather Paul Walker mengatakan, spekulasi bahwa gempa Jepang disebabkan oleh perigee Bumi-Bulan sepertinya tidak benar. "Saya kira Anda tidak bisa menghubungkannya dengan 'supermoon' yang masih 8 hari lagi terjadi. 'Supermoon' memang bisa berakibat pada gelombang pasang yang luar biasa, tapi tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan peristiwa alam yang ekstrim semacam ini," jelasnya seperti dikutip MSNBC.
Astronom NASA David William juga mengatakan bahwa "supermoon" bukan penyebab gempa. "Supermoon itu hanya bulan yang besar dan sangat bercahaya. Tak ada yang spesial dengan itu," paparnya.
John Vidale, seismolog University of Washington dan direktur Pasific Northwest Seismic Network serta Wiliam Wilcock yang juga dari University of Washington pun mengatakan hal serupa. Mantan ilmuwan NASA Phil Plait mengatakan dengan tegas, "Apapun yang orang katakan, yang jelas tak ada kemungkinan gempa ini disebabkan oleh Bulan."

Perigee memang bisa menyebabkan peningkatan aktivitas tektonik, namun ia mengatakan bahwa hingga saat ini Bulan belum berada pada titik terdekat itu. Pergerakan Bulan bisa membawanya menuju titik terdekat dan terjauh dengan Bumi. Titik terdekat disebut perigee sedangkan titik terjauh disebut apogee.
Saat perigee, efek gravitasi Bulan terhadap Bumi meningkat. Efek yang paling bisa dilihat adalah gelombang pasang, sebab air adalah salah satu elemen bumi yang paling mudah dipengaruhi gravitasi.

 

Labels